Home » Mengenal Tradisi Kerasukan yang Diangkat di Film Para Perasuk

Mengenal Tradisi Kerasukan yang Diangkat di Film Para Perasuk

by Aulia Azzahra

Selama ini, kata “kerasukan” di benak banyak orang langsung terhubung dengan satu hal: film horor.

Tapi coba tanyakan kepada masyarakat di Banyuwangi, atau kepada seorang penari Jathilan di Yogyakarta, atau kepada warga Desa Tembeng Putik di Lombok Timur. Mereka akan memberikan jawaban yang sangat berbeda.

Bagi banyak komunitas di Indonesia, tradisi kerasukan Indonesia bukan sesuatu yang ditakuti. Ini adalah ritual komunal, sarana komunikasi dengan leluhur, bahkan sebuah bentuk perayaan kolektif yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

Dan pada 2026, sebuah film bernama Para Perasuk karya sutradara Wregas Bhanuteja hadir di layar bioskop Indonesia setelah mendapat standing ovation di Sundance Film Festival, membawa tradisi kerasukan Indonesia ke depan penonton global dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Film itu fiktif. Tapi inspirasi di baliknya sangat nyata.

Di artikel ini, kita akan menggali lebih dalam: seperti apa sebenarnya tradisi kerasukan Indonesia di berbagai daerah, apa makna di baliknya dari sudut pandang budaya, dan bagaimana semua itu tercermin dalam pendekatan film Para Perasuk yang kini sedang ramai diperbincangkan.

Mengapa Tradisi Kerasukan Indonesia Bukan Sekadar Takhayul

Sebelum masuk ke praktik spesifik tradisi kerasukan Indonesia di berbagai daerah, kita perlu meluruskan satu hal terlebih dahulu.

Tradisi kerasukan Indonesia sering kali dipandang miring oleh perspektif modern sebagai sesuatu yang berbau takhayul atau tidak ilmiah. Tapi pandangan itu mengabaikan satu kenyataan yang jauh lebih kaya: di hampir semua kebudayaan besar dunia, ada bentuk trance atau altered state of consciousness yang diintegrasikan ke dalam ritual komunal.

Indonesia, dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis dan ratusan tradisi lokal yang masih hidup, adalah salah satu negara dengan ragam tradisi kerasukan Indonesia yang paling beragam dan kaya di dunia. Dari Jawa hingga Bali, dari Lombok hingga Kalimantan Barat, fenomena ini hadir dalam berbagai bentuk, nama, dan fungsi.

Bagi masyarakat yang menjalani tradisi kerasukan Indonesia ini, trance bukan sekadar kesurupan tanpa makna. Ini adalah jembatan. Antara dunia yang terlihat dan tidak terlihat. Antara manusia dan leluhur. Antara individu dan komunitasnya.

Wregas Bhanuteja, sutradara Para Perasuk, menangkap esensi ini dengan sangat tepat saat ia berkata kepada Variety: kerasukan dalam filmnya ditampilkan sebagai pengalaman komunal sehari-hari, di mana orang-orang keluar dari rutinitas mereka, melepaskan tekanan, dan terhubung kembali dengan sesama.

Jathilan dan Kuda Lumping: Tradisi Kerasukan Indonesia yang Paling Dikenal

Jathilan dan Kuda Lumping – Shutterstock/Lucky Vectorstudio

Jika kalian pernah menyaksikan pertunjukan di mana seseorang menunggang kuda dari anyaman bambu lalu tiba-tiba matanya kosong dan bergerak tanpa kendali, itu adalah Jathilan, atau yang lebih dikenal secara nasional sebagai Kuda Lumping.

Tradisi kerasukan Indonesia yang satu ini adalah salah satu yang paling tersebar luas di seluruh Nusantara. Berakar dari Ponorogo, Jawa Timur, seni pertunjukan ini berkembang di Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan nama Jathilan, di Jawa Barat disebut Kuda Lumping, di Blora disebut Jaran Kepang, dan di Bali dikenal sebagai Sang Hyang Jaran. Melalui perantau Jawa, tradisi kerasukan Indonesia ini bahkan telah dibawa ke Suriname, Malaysia, dan Singapura.

Nama Jathilan sendiri berasal dari ungkapan Bahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan” yang berarti “kudanya benar-benar joget tak beraturan.” Ungkapan ini merujuk pada gerakan para penari saat mengalami trance atau kerasukan, yang dalam tradisi Jawa disebut “ndadi.”

Apa yang terjadi saat ndadi berlangsung adalah salah satu hal yang paling memukau dalam tradisi kerasukan Indonesia ini. Para penari bisa melakukan atraksi yang sepenuhnya di luar kemampuan normal manusia sadar: mengunyah beling, memakan bara api, kebal terhadap cambukan, bahkan berperang menggunakan pedang. Fenomena kerasukan dalam Jathilan tidak hanya menimpa para penari, penonton pun tidak luput. Banyak orang yang menyaksikan pertunjukan ikut menari dan kerasukan tanpa bisa dikendalikan.

Tapi ini bukan pertunjukan tanpa pengawasan. Setiap pagelaran Jathilan selalu menghadirkan pawang, seseorang dengan kemampuan supranatural yang bertugas mengendalikan jalannya pertunjukan dan memulihkan kesadaran para penari atau penonton yang mengalami kerasukan. Ini adalah sistem kontrol sosial yang tertanam dalam tradisi kerasukan Indonesia sejak berabad-abad lalu.

Di luar atraksinya yang spektakuler, Jathilan juga berfungsi sebagai ritual bersih desa, doa kolektif untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah pengingat bahwa tradisi kerasukan Indonesia memiliki fungsi sosial yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan.

Kerauhan: Tradisi Kerasukan Indonesia di Bali yang Sakral

Kerauhan – Bali Express/I Putu Mardika

Di Bali, tradisi kerasukan Indonesia mengambil wujud yang sangat berbeda namun sama-sama dalamnya secara spiritual.

Kerauhan, atau kadang disebut Kalinggihan, adalah tradisi di mana seorang dewa atau leluhur merasuki tubuh manusia saat upacara keagamaan berlangsung. Berbeda dengan persepsi umum soal kerasukan, dalam kepercayaan Hindu Bali, kerauhan yang terjadi di pura adalah sesuatu yang suci dan disambut dengan rasa syukur.

Umat Hindu Bali meyakini bahwa roh yang masuk dalam kerauhan adalah roh yang baik dan suci, yang hadir untuk memberikan petunjuk tentang kelengkapan ritual, menyampaikan pesan dari alam niskala, atau sebagai wujud kehadiran para dewa yang memberkahi upacara.

Orang yang mengalami kerauhan dalam tradisi kerasukan Indonesia di Bali ini menunjukkan tanda-tanda yang sangat jelas: mereka bisa kebal terhadap senjata tajam yang sengaja ditancapkan ke tubuh, bermain dengan api tanpa rasa sakit, hingga membuka buah kelapa hanya dengan gigi. Ini adalah bukti, menurut keyakinan mereka, bahwa yang merasuki bukan kekuatan biasa.

Kerauhan berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara dunia sekala (alam nyata yang terlihat) dan dunia niskala (alam gaib, alam para dewa dan leluhur). Fungsi ini menjadikannya salah satu elemen paling penting dalam spiritualitas Bali dan menempatkan tradisi kerasukan Indonesia ini sebagai warisan budaya yang sangat dihormati.

Tari Seblang Banyuwangi: Perempuan dan Leluhur

Tari Seblang Banyuwangi – KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI

Kalian mungkin tidak sering mendengar nama Seblang, tapi tradisi kerasukan Indonesia yang satu ini punya karakteristik yang sangat unik dan langka.

Tari Seblang adalah ritual yang dilakukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Yang istimewa, tradisi kerasukan Indonesia ini hanya bisa dilakukan oleh seorang penari perempuan yang dipercaya sedang dirasuki oleh roh leluhur. Sang penari harus berada dalam kondisi trance sepanjang pertunjukan berlangsung tanpa jeda.

Tujuan dari ritual Seblang sangat spesifik: membersihkan desa dari bala dan mendatangkan keberkahan bagi seluruh komunitas. Ini menjadikan tradisi kerasukan Indonesia ini sebagai bentuk pengorbanan kolektif, di mana satu orang rela menjadi sarana komunikasi antara dunia manusia dan leluhur demi kebaikan bersama.

Seblang adalah pengingat bahwa dalam banyak tradisi kerasukan Indonesia, perempuan sering kali memegang peran sentral sebagai medium antara dunia yang terlihat dan tidak terlihat. Peran yang penuh tanggung jawab dan tidak sembarangan bisa dijalani oleh siapa pun.

Kebangru’an Lombok: Tradisi Kerasukan Indonesia yang Tidak Bisa Direncanakan

Kebangru’an Lombok – Etnis/ Galih Suryadmaja 

Di Lombok Timur, ada bentuk tradisi kerasukan Indonesia yang berbeda dari semua yang telah kita bahas: Kebangru’an.

Berbeda dari Jathilan atau Kerauhan yang bisa dipersiapkan dalam konteks pertunjukan atau ritual tertentu, bangru’ di Lombok Timur adalah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi. Seseorang bisa mendadak mengalami bangru’ kapan saja dan di mana saja, dan kondisi ini bahkan bisa berlangsung hingga sebulan lamanya.

Masyarakat Lombok Timur sudah hidup berdampingan dengan tradisi kerasukan Indonesia ini secara turun-temurun. Bagi mereka, bangru’ bisa dipandang dari berbagai sudut: sebagai bentuk hadirnya roh leluhur yang ingin berkomunikasi, sebagai tanda diturunkannya tanggung jawab spiritual kepada seseorang yang terpilih, atau dalam perspektif yang lebih praktis, sebagai kondisi yang membutuhkan penanganan khusus melalui musik tradisional.

Yang menarik, dalam tradisi kerasukan Indonesia kebangru’an ini, musik memegang peran penyembuhan. Musik dimainkan sesuai petunjuk dari orang yang bangru’ itu sendiri, dan dipercaya bahwa alunan musik yang tepat akan membantu memulihkan kondisi orang yang mengalaminya.

Hubungan antara musik dan tradisi kerasukan Indonesia ini ternyata adalah tema universal. Dan ini adalah salah satu hal yang paling menarik dari keberadaan tradisi-tradisi semacam ini: musiklah yang sering kali menjadi kunci, baik untuk memulai trance maupun mengakhirinya.

Tatung Singkawang: Tradisi Kerasukan Indonesia yang Mendunia

Tatung Singkawang – Kementrian Pariwisata Indonesia

Satu lagi tradisi kerasukan Indonesia yang tidak bisa dilewatkan adalah Tatung dari Singkawang, Kalimantan Barat.

Tatung adalah ritual yang dilakukan komunitas Tionghoa-Indonesia saat perayaan Cap Go Meh. Para Tatung adalah individu yang memasuki kondisi trance dan diyakini dirasuki oleh dewa atau roh leluhur. Dalam kondisi tersebut, mereka melakukan atraksi yang menampilkan kekuatan gaib: menusukkan benda tajam ke tubuh tanpa terluka, menari di atas bara api, dan berbagai aksi lain yang membuat penonton terdiam.

Tujuan dari tradisi kerasukan Indonesia Tatung ini adalah untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan kepada roh-roh leluhur bagi komunitas setempat. Ritual ini sempat dilarang di era Orde Baru namun dihidupkan kembali sejak reformasi, dan kini menjadi salah satu daya tarik budaya Singkawang yang mengundang wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Fakta bahwa tradisi kerasukan Indonesia ini melibatkan komunitas Tionghoa-Indonesia menunjukkan betapa fenomena ini benar-benar lintas etnis dan agama. Ini adalah bukti bahwa kebutuhan manusia untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri adalah sesuatu yang universal.

Apa yang Membuat Tradisi Kerasukan Indonesia Berbeda dari Semua Bayangan Kalian

Setelah memahami beragam tradisi kerasukan Indonesia dari berbagai daerah, ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya dan ini adalah sesuatu yang sering kali luput dari perhatian.

Tradisi kerasukan Indonesia tidak pernah hanya tentang individu yang kesurupan sendirian. Selalu ada komunitas di sekelilingnya. Selalu ada penonton, partisipan, pawang, atau pemimpin ritual yang membingkai pengalaman tersebut dalam struktur sosial yang jelas. Tidak ada yang “ditinggalkan” dalam kondisi kerasukan tanpa seseorang yang siap untuk membantu memulihkan.

Ini adalah perbedaan fundamental antara tradisi kerasukan Indonesia sebagai praktik budaya dengan representasi kerasukan dalam film horor yang selalu menampilkan individu yang terisolasi dan teror yang tidak terkendali.

Dalam tradisi kerasukan Indonesia yang asli, komunitas adalah intinya. Trance adalah pengalaman bersama, bukan kutukan pribadi.

Dan di sinilah letak kecerdasan Film Para Perasuk: Wregas Bhanuteja memilih untuk membangun dunia fiksi yang menangkap esensi komunal dari tradisi kerasukan Indonesia ini, bukan aspek horor-nya. Ia menciptakan bahasa gerak yang orisinal bersama koreografer Siko Setyanto, bukan meniru satu tradisi tertentu, karena ia tahu bahwa inti dari semua tradisi kerasukan Indonesia ini adalah sesuatu yang universal dan bisa dirasakan oleh siapapun: kebutuhan manusia untuk melepaskan beban, terhubung dengan orang lain, dan menemukan kebahagiaan bersama.

Untuk mengeksplorasi lebih jauh kekayaan budaya Indonesia dan berbagai karya seni yang lahir dari akar lokal, banyak ulasan mendalam dan aktual bisa kalian temukan di berbagai portal digital yang konsisten meliput perkembangan budaya dan hiburan Indonesia, termasuk di uzone.id.

Film Para Perasuk dan Tanggung Jawab terhadap Tradisi Kerasukan Indonesia

Satu hal yang sangat ditekankan oleh Wregas Bhanuteja sejak awal adalah bahwa film Para Perasuk tidak dimaksudkan untuk meniru, mengomentari, atau merendahkan tradisi kerasukan Indonesia manapun yang nyata.

“Unsur-unsur tarian, musik, bahkan mantra-mantra yang digunakan merupakan hasil imajinasi. Jadi, tidak ada mengacu kepada kultur tertentu,” ujar Wregas dalam sebuah konferensi pers. Justru karena ia tahu betapa dalamnya makna tradisi kerasukan Indonesia bagi masyarakat yang menjalaninya, ia memilih untuk tidak mengambilnya secara langsung tapi mengangkat spiritnya.

Hasilnya adalah sebuah film yang berhasil berbicara kepada penonton di Sundance, yang sebagian besar tidak memiliki pengetahuan apapun tentang tradisi kerasukan Indonesia, namun langsung merasakan kebenaran emosional di dalam ceritanya.

Ini adalah contoh terbaik dari bagaimana seni bisa menjadi jembatan antara yang lokal dan yang universal. Film Para Perasuk berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa tradisi kerasukan Indonesia bukan sekadar konten eksotis untuk konsumsi wisatawan, melainkan sebuah sistem nilai yang kaya tentang komunitas, kegembiraan, dan penyembuhan kolektif.

Kalian bisa menonton film Para Perasuk di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Untuk panduan sinopsis dan informasi tiket lengkap, akun Instagram resmi film ini bisa menjadi referensi terpercaya di @filmparaperasuk.

Tradisi Kerasukan Indonesia Adalah Warisan yang Layak Dikenal Lebih Dalam

Tradisi kerasukan Indonesia adalah salah satu aspek kebudayaan Nusantara yang paling kompleks, paling kaya, dan ironisnya paling sering disalahpahami.

Kita terlalu lama melihatnya hanya dari kacamata horor dan ketakutan. Tapi seperti yang telah kita jelajahi bersama di artikel ini, tradisi kerasukan Indonesia dari Jathilan di Jawa, Kerauhan di Bali, Seblang di Banyuwangi, Kebangru’an di Lombok, hingga Tatung di Singkawang, semuanya punya akar yang sama: kepercayaan bahwa manusia bisa dan perlu terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, dan bahwa proses itu paling kuat terjadi dalam komunitas, bukan kesendirian.

Film Para Perasuk datang di momen yang tepat untuk mengingatkan kita akan semua itu. Bahwa di tanah air kita sendiri, ada tradisi-tradisi yang mengandung kebijaksanaan tentang kegembiraan, pelepasan, dan kebersamaan yang bahkan penonton internasional di Sundance pun bisa langsung merasakannya.

Sebagai bangsa yang punya lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 1.300 kelompok etnis, tradisi kerasukan Indonesia hanyalah satu dari sekian banyak warisan yang menunggu untuk dipahami lebih dalam, dilestarikan, dan diceritakan kembali kepada dunia.

You may also like