Alter Ego kembali membuktikan bahwa mereka bukan sebagai tim pelengkap di ajang turnamen M7 World Championship. Banyak yang tidak menyangka bahwa tim yang sering dijuluki “hoki” ini berhasil menumbangkan dua monster Malaysia dan Filipina, yaitu Team Liquid PH (TLPH) dan Selangor Red Giants (SRG) di Lower Bracket.
Perjalanan Alter Ego ngamuk bukan hanya sekedar judul, melainkan gambaran nyata bagaimana mereka mendominasi di Lower Bracket dan berhasil memulangkan lawan timnya satu per satu. Mari kita bedah bagaimana “El Familia” melakukan perjuangannya sampai ke Grand Final M7.
Jalur Neraka di Lower Bracket
Alter Ego terpaksa harus turun ke Lower Bracket setelah dikalahkan oleh tim asal Filipina, yaitu Aurora PH dengan skor 1-3. Hal tersebut membuat komunitas esports Indonesia khawatir karena hanya tersisa satu nyawa lagi untuk Alter Ego bisa melanjutkan pertandingannya di M7 World Championship. Belum lagi, Alter Ego harus mengalahkan tiga tim agar bisa melaju ke Grand Final. Tentu saja, perjuangan saja tidak cukup, dibutuhkan mental juara agar mereka bisa mendominasi di Lower Bracket karena tim-tim yang harus dilawannya pun cukup kuat, mulai dari Tim Spirit, Team Liquid PH, dan Selangor Red Giants. Bukan hanya mekanik permainan saja, tetapi dibutuhkan mental juara untuk mereka bisa melanjutkan perjuangannya sampai ke Grand Final.
Menumbangkan Sang Monster Filipina Team Liquid PH

Setelah menumbangkan Tim Spirit dengan skor 3-1. Alter Ego akan berhadapan dengan monster Filipina, yaitu Team Liquid PH (TLPH). Seluruh pemain TLPH merupakan mantan juara dunia M Series, tentu saja dibutuhkan strategi yang matang dan mental juara yang tinggi agar bisa melanjutkan perjuangan di Lower Bracket.
Kunci kemenangan Alter Ego terletak pada kedisiplinan mereka dalam melakukan counter-setup. Belum lagi di game terakhir, draft pick hero Alter Ego yang tidak bisa ditebak oleh pemain TLPH, yaitu Uranus yang dijadikan Jungler serta Claude Arfy yang mendominasi di game tersebut membuat tim asal Filipina tersebut terpaksa pulang setelah berhasil ditumbangkan oleh Alter Ego. Kemenangan tipis 3-2 ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari strategi draft pick, makro yang matang, dan eksekusi mikro yang sangat tajam dari para pemainnya.
Menghancurkan Tembok Malaysia: SRG Tak Berkutik

Belum sempat euforia mereda, Alter Ego langsung dihadapkan pada Selangor Red Giants. Berbeda dengan laga sebelumnya yang berlangsung ketat, pertandingan melawan wakil Malaysia ini justru memperlihatkan dominasi Alter Ego sejak awal permainan. Selangor Red Giants yang dikenal solid dan disiplin tampak kesulitan membaca tempo permainan Alter Ego. Sejak early game, Alter Ego berani mengambil inisiatif, memaksa lawan bermain defensif, dan menutup ruang rotasi dengan sangat efektif.
Hal yang paling menonjol dari pertandingan ini adalah betapa efisiennya Alter Ego dalam mengeksekusi keunggulan. Tidak ada permainan ceroboh, tidak ada overcommit yang berisiko. Mereka bermain sabar namun mematikan, seolah benar-benar tahu kapan harus menyerang dan kapan harus menunggu kesalahan lawan. Dua game berjalan relatif cepat, dan Alter Ego memastikan kemenangan tanpa memberi banyak celah bagi Selangor Red Giants untuk bangkit. Pertandingan ini Alter Ego berhasil memulangkan tim SRG dengan skor 3-1 dan berhasil lolos ke babak grand final M7.
Keberhasilan ini menjadi tinggak sejarah baru bagi Alter Ego karena berhasil melaju ke Grand Final M7 World Championship. Terlihat dari performa, draft pick, strategi, dan dominasinya mulai dari Swiss Stage sampai dengan Lower Bracket. Alter Ego akan membuktikan kejayaan tim Indonesia di Grand Final M7 yang nantinya akan menghadapi tim Filipina, yaitu Aurora PH yang digelar pada tanggal 25 Januari 2026. Mampukah Alter Ego meruntuhkan kejayaan Filipina dan menciptakan sejarah baru bagi tim yang tidak pernah menjuarai MPL ID ini akan mengangkat piala M Series?